Friday, August 2, 2019

KEAJAIABAN HIDUP

OLEH: TOTO SUHARYA

Pernahkah anda mengalami kejaiban dalam hidup? Keajaiban adalah kejadian yang terjadi di luar kemampuan nalar manusia. Menurut pandangan mata, tidak mungkin di gurun ada mata air, tidak mungkin di laut ada gunung berapi, tidak mungkin laut dibelah, dan tidak mungkin benda dengan berat beribu-ribu ton bisa terbang.

Kisah ini dialami oleh seorang pria yang berniat menikahi seorang gadis. Pria itu sangat mencintai gadis yang akan dinikahinya. Namun gadis yang akan dinikahinya memiliki masalah dengan siklus yang biasa dialami gadis pada umumnya. Gadis itu mengalami haid hanya empat bulan sekali. Menurut analisis dokter, siklus tidak normal ini terjadi karena ada kelainan pada rahim. Akibat kelainan ini, dokter memonis bahwa gadis itu tidak bisa melahirkan keturunan.

Kondisi gadis ini diketahui oleh pria yang hendak menikahinya. Orang tua dan anggota keluarga pihak pria memberi saran untuk mempertimbangkan niatnya menikahi gadis ini. JIka tidak, kelak dia tidak akan punya keturunan. Namun keputusan pria itu tetap memilih untuk menikahi gadis ini. Atas dasar kasih sayangnya yang tulus, dia siap menikah dan ikhlas menerima jika setelah menikah tidak memiliki keturunan. Keluarga besarnya tidak sedikit yang menyesalkan atas keputusan pria tersebut, karena sudah dipastikan tidak akan mendapat keturunan.


Sudah beberapa tahun lewat pria itu menikah dengan gadis yang dicintainya. Keajaibanpun terjadi, mereka dikaruniai tiga orang anak yang sehat dan lucu-lucu. Kehidupan keluarganya dialami dengan penuh kebahagiaan.

Begitulah keajaiban terjadi diluar nalar manusia biasa. Namun tidak tahu kenapa, dibalik keajaiban selalu ada keikhlasan dari orang-orang yang mengalaminya. Ikhlas adalah berharap tetapi tidak menuntut dan ngotot. Ikhlas adalah berharap tetapi menyerahkan diri kepada Allah. Ikhlas adalah berharap tetapi menerima segala keputusan sebagai takdir Allah. Ikhlas adalah berharap tetapi mengakui keputusan yang diterima adalah takdir terbaik dari Allah.

Pada akhirnya ikhlas adalah berharap tetapi tidak pernah mendahului keputusan Allah. Ikhlas adalah berani berkorban kehilangan kesenangan dunia untuk melaksanakan apa yang dicintai Allah. Ikhlas adalah ketaatan murni menjalankan perintah semata untuk Allah. Kemurnian ketaatan ini yang selalu melahirkan keajaiban bagi pelakunya. Kemurnian ketaatan tidak lagi melahirkan prasangka-prasangka manusia kecuali prasangka Allah swt. 

Cerita inspirasi ini penulis dapat dalam perjalanan menuju tempat kerja dari stasiun radio nasional, ketika tepat berada di pembuangan sampah yang baunya menyesakkan dada. Ajaib! inspirasi ini berbarengan dengan bau sampah yang menyesakkan dada. Allah tetap melahirkan kebaikan dalam kondisi buruk sekalipun. Wallahu ‘alam.

(Head Master Trainer)  

Saturday, July 20, 2019

BELUT

oleh: Toto Suharya

Pepetah orang tua dahulu, bekerja itu seperti mencangkul di sawah. Tujuannya menanam padi sampai panen. Tapi jika sedang mencangkul ketemu belut (hewan sejenis ikan tahan oksigen rendah berprotein tinggi) boleh kita ambil itu rezeki tak disangka atau bonus. Tapi tetap pada saat mencangkul kita tidak mencari belut.

Filosofi ini tidak lekang dimakan zaman. Filosofi ini ternyata bersumber pada pola pikir dari Qur'an. Hidup kita tujuannya untuk akhirat, rezeki yang kita dapat di dunia adalah rezeki tak diaangka bonus dari Allah.


Hidup ini tidak mencari rezeki bonus, tetapi rezeki pasti yang dijanjikan Allah. Demikian juga diumpamakan pada saat bekerja, kita tidak mencari belut atau bonus tapi mengerjakan pekerjaan sesuai gaji bulanan yang kita terima. Jika ada belutnya ya ambil saja, jika tidak jangan fokus cari belut. Demikian juga dalam hidup sehari hari jangan fokus cari dunia, fokuslah cari akhirat, insya Allah banyak ŕezeki bonus kita dapat. Jangan gagal fokus!

Semangat pagi. Tetap berliterasi sehat dan bergizi. Optimis tanpa batas!!!

(Head Master Trainer)

Wednesday, June 26, 2019

PROGRAM CLONING CLEANING TRAINING SERVICE (CCTV)


OLEH: TOTO SUHARYA

“Jika ingin tahu letak wc sekolah, tarik nafas cium baunya dari arah mana, maka kita akan menemukan dimana letaknya”. Itulah candaan orang-orang pendidikan yang sudah tahu bahwa wc wc di sekolah selalu bau pesing dan kotor.

Kondisi ini hampir terjadi di setiap sekolah. Padahal sekolah adalah lingkungan yang harus mendidik anak-anak untuk hidup bersih. Kendalanya adalah tenaga kebersihan yang ditugaskan di skeolah tidak maksimal melaksanakan tugas. Selain itu kontrol dan manajemen pemeliharaan lingkungan sekolah kurang disiplin dan sering terabaikan. Padahal citra sekolah bisa dilihat di wc.

Menjaga wc tetap bersih ternyata butuh sumber daya terlatih dan punya tata kerja disiplin. Memelihara wc tetap bersih butuh tenaga-tenaga professional terlatih, karena memelihara wc jika di dalami ternyata butuh ketermpilan, dilengkapi alat-alat, dan cairan-cairan khusus permbersih wc.

Tenaga kebersihan di sekolah rata-rata tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan cukup tentang cara membersihkan dan memelihara wc agar tetap bersih. Selama ini pihak sekolah merengkrut tenaga kebersihan tanpa pernah ada pelatihan dan pembinaan bagaimana tata cara memelihara dan membersihkan wc.

Petugas kebersihan sekolah biasanya memiliki jam kerja tidak teratur. Setelah melaksanakan tugas di pagi hari, petugas kebersihan tidak pernah punya pekerjaan lain, dan kinerjanya tidak terkontrol. Membersihkan wc wc guru, dan siswa, tidak pernah teratur dan jika dikerjakan kualitasnya tidak maksimal. Hingga sering kita temukan wc-wc guru dan siswa, kotorannya mengerak dan sulit dibersihkan sekalipun sudah menggunakan cairan pembersih wc. Kondisi ini menjadi kurang mendidik dan tidak layak menjadi wc di lingkungan pendidikan.

Program CCTV terinspirasi dari seorang alumni yang dulu pernah bekerja menjadi cleaning service. Dia datang ke sekolah bukan sebagai cleaning service tetapi sudah menjadi pengusaha jasa cleaning service. Beliau bercerita bahwa dulu karena sulit cari kerja dia bekerja di perusahaan jasa cleaning service terbesar di Bandung yang pemilik orang Denmark. Di Bandung hanya ada 46 perusahaan jasa cleaning service yang sudah memiliki izin, termasuk perusahaan yang dia didirikan sekarang. Beliau datang ke sekolah ingin membantu dan berbagi ilmu bagaimana menjaga kebersihan wc sekolah seperti wc-wc di hotel bintang.

Program CCTV dilakukan dengan memasukkan petugas cleaning service profesional menjadi petugas kebersihan sekolah dengan kontrak satu tahun. Petugas kebersihan dari jasa cleaning service dipekerjakan dua orang, sambil bekerja mereka bertugas melakukan training tenaga kebersihan sekolah untuk mengikuti pola kerja standar dari pekerja cleaning service. Petugas kebersihan sekolah ditugaskan mengiuti seluruh aktivitas yang dilakukan oleh petugas kebersihan profesional.

Kontrol jam kerja, tata cara kerja, petugas kebersihan sekolah diserahkan kepada manajer jasa cleaning service. Petugas kebersihan sekolah sesuai dengan MOU, ditugaskan untuk mengikuti dan diatur oleh manajemen jasa cleaning service. Selama MOU, disiplin kerja, tata cara  kerja, dan penilaian kinerja dilakukan standar oleh pengelola jasa layanan cleaning service.

Program CCTV dilakukan dengan mempertimbangkan keuangan sekolah yang tidak mungkin untuk membayar tenaga professional jasa cleaning service dalam jumlah sesuai kebutuhan. Sistem cloning dilakukan dengan merekrut tenaga professional dengan gaji dan jam kerja standar 8 jam full perhari. Tenaga kebersihan sekolah karena gajinya belum standar, hanya mengikuti 6 jam kerja per hari. Namun pada saat bekerja selama 6 jam mereka harus mengikuti tata cara kerja pekerja jasa cleaning service professional. Selama bekerja itulah mereka seolah-olah melakukan training menjadi pekerja cleaning service.

Diharapkan melalui program CCTV para pekerja kebersihan sekolah memiliki wawasan pengetahuan bagaimana menjadi pekerja professional dalam bidang kebersihan. Selama satu tahun percobaan mereka akan bekerja bersama cleaning service professional. Melalui program CCTV diharapkan seluruh warga sekolah bisa melihat kualitas wc yang selalu bersih, dan menjadi budaya standar hidup bersih yang tinggi terutama bagi anak-anak didik.

Alhasil, setelah lulus sekolah anak-anak punya daya cipta untuk mewujudkan wc-wc bersih dengan standari tinggi di rumah-rumah mereka dan tempat umum. Diharapkan juga mindset dan kepedulian mereka terhadap wc dan lingkungan bersih menjadi karakter.

Tidak sadar selama ini dengan kualitas kebersihan wc sekolah yang buruk, bertahun-tahun kita sedang mewariskan keburukan kepada anak-anak. Sehingga setelah lulus sekolah kualitas hidup mereka tidak berubah. Program CCTV adalah inovasi program yang mungkin dilakukan dan patut dicoba oleh setiap sekolah. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, June 8, 2019

EMPAT FILOSOFI GURU

OLEH: TOTO SUHARYA

Tidak ada pekerjaan yang dibebani tugas berat selain guru. Di pundak para guru, nasib bangsa ke depan ditentukan. Di Spanyol, masyarakat bisa protes keras jika guru tidak melaksanakan tugas dengan profesional. Sekolah bisa didakwa secara pidana oleh orang tua jika anak-anaknya tidak bisa mendapatkan ilmu yang dijanjikan.

Guru memiliki tugas-tugas kenabian. Menanggung beban derita dan sangat peduli pada masa depan umat manusia. Menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan umat manusia, dan menelantarkan satu anak tanpa pendidikan sama dengan menelantarkan seluruh manusia. Filosofi guru seperti para nabi yang diutus Nya.

Pertama; Tugas guru hanya menyampaikan kebenaran. “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (Yasin, 36:17). Setiap hari melalui berbagai macam cara guru menyampaikan kebenaran. Cara pengajaran terbaik yang dimiliki guru adalah keteladanan. Dosa besar guru manakala tidak menyampaikan kebenaran, tidak memberikan keteladanan kepada anak-anak dalam berakhlak mulia, dari mulai parkir kendaraan, cara membuang sampah, sampai memuliakan orang tuanya.

"Guru tidak mengklaim keberhasilan murid-murid sebagai jasa-jasanya". (Muhammad Plato)
Kedua; Lemah lembut dan pemaaf adalah akhlak sehari-hari guru. Kesalahan tidak ditimpakan pada murid-muridnya tetapi dialamatkan kepada dirinya yang tidak sempurna dalam menjalankan tugas. Marah adalah perbuatan haram bagi guru, sekalipun dalam kebenaran marah tidak dibenarkan dalam dunia guru, karena di dalam marah ada kesombongan tersembunyi, yaitu merasa diri pemilik kebenaran, sedangkan kebenaran mutlak milik Allah.
   
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran, 3:159).

Ketiga; Guru tidak mengklaim keberhasilan murid-murid sebagai jasa-jasanya. Bukan hak guru menghakimi murid-murid cerdas atau bodoh. Bukan guru yang menjadikan anak soleh atau durhaka. Murid-murid pada dasarnya makhluk cerdas, dan kebodohan, kedurhakaan karena prilakunya sendiri. “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk,” (Al lail, 92:12). Guru tidak menjadi Tuhan bagi murid-muridnya, tugas guru seperti para nabi hanya menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut, pemaaf, dan dengan contoh teladan.

Keempat; Keteladan paling dasar untuk diajarkan adalah kemampuan hidup dijalan benar dalam kesabaran. Berdasar hadis, “kemampuan hidup sabar adalah penguasaan 50% ajaran kehidupan”. Bagi guru, kesabaran adalah perbuatan tanpa batas, karena kesabaran pilihan hidup untuk tetap bersekutu dengan Tuhan dan selalu menjannjikan keberuntungan besar.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153). “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (ali Imran, 3:200).

(Penulis Head Master Teacher)

Friday, June 7, 2019

KEWIRAUSAHAAN MENURUT AL-QURAN

OLEH: TOTO SUHARYA


Dulu kewirausahaan identik dengan pedagang. Islam di Indonesia disebarkan melalui para pedagang dari Gujarat. Islam di Indonesia menyebar melalui pesisir pantai, dan kita temukan di setiap pesisir pantai akan ada pasar dan masjid. Pada masa awal, kewirausahaan adalah industri milik keluarga, pada masa revolusi industri kewirausahaan menjadi pegawai perusahaan, kemudian pada masa revolusi industri 4.0 kewirausahaan berubah menjadi kepemilikan kapital dan teknologi digital. Kewirausahaan kembali menjadi milik setiap anggota keluarga. Inilah fenomena di masyarakat abad ke-21.

SESUNGGUHNYA MANUSIA DCICIPTAKAN PUNYA KEMAMPUAN BETAHAN HIDUP DALAM KESULITAN. (MUHAMMAD PLATO)
Semua orang adalah pewirausaha, pendapat ini dikatakan oleh Muhammad Yunus seorang pewirausaha sosial dari Bangladesh, mendapat nobel perdamaian tahun 2016, dikutif Rhenald Kasali (26 Desemeber 2017). Konsep ini menjadi layak sebagai kompetensi dalam kurikulum pendidikan. Untuk itu di abad ke-21 semua kurikulum harus mengacu pada pengembangan jiwa kewirausahaan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kewirausahaan berkaitan erat dengan adversity quotient yang dikembangkan Stolzt. Dari berbagai studi literatur buku-buku autobiorafi para pewirausaha dan tokoh-tokoh politik dunia, adversity adalah kompetensi dasar yang dimiliki oleh mereka. Para pewirausaha adalah manusia climbers seperti dikemukakan oleh Stolzt (2005, hlm. 19) yaitu manusia yang mengabdikan diri seumur hidupnya pada pendakian.

Konsep jalan sulit dan mendaki kita temukan di dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an memberikan penjelasan rinci tentang apa itu jalan mendaki yang harus ditempuh oleh manusia. “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu (‘aqabah)? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan (raqabah), atau memberi makan pada hari kelaparan (masgobah) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir”. (Al Balad, 12-16).

Para pengambil jalan mendaki dikabarkan oleh Tuhan sebagai orang-orang berjiwa wirausaha yaitu yang tidak takut dengan kesulitan dan mengabdikan diri untuk membantu manusia terbebas dari ketidakadilan dan berusaha memenuhi kebutuhan fisiologis manusia terutama mereka yang sedang dilanda kesulitan.

Para pewirausaha dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik, guru, dosen, pengusaha, relawan, pejabat, pegawai, pada dasarnya mereka mengabdikan diri untuk membantu dan membebaskan manusia dari ketidakadilan dan kemiskinan. Penjajahan dalam berbagai bentuk adalah salah satu bentuk ketidakadilan yang mengakibatkan kemiskinan.

Maka atas jasa-jasa tokoh para pewirausahalah, setiap suku, bangsa, dan dunia bisa diselamatkan dari ketidakdilan dan kemiskinan. Kehadiran para pewirausaha dalam berbagai bidang harus diregenerasi melalui upaya pendidikan secara terencana, dan terstruktur dalam setiap kurikulum pembelajaran. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Tuesday, June 4, 2019

GURU BERBASIS ZONASI


OLEH: TOTO SUHARYA

“Jika masalah guru tertangani dengan baik, sekitar 70 persen urusan pendidikan di Indonesia selesai”. (kompas, 28/11/2018). Menyimak pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, 1000 persen saya setuju sekalipun pernyataannya hanya sebatas nalar sehat seorang menteri. Masalah mendasar dalam dunia pendidikan kita adalah kualitas guru. Perhatian pemerintah terhadap guru tidak boleh mengalami pasang surut. Peradaban boleh berubah, teknologi boleh berubah, tetapi guru kedudukannya tidak akan tergantikan.

ARTIKEL TELAH DIMUAT DI FORUM GURU PIKIRAN RAKYAT
Negara-negara kaya yang banyak membelanjakan dananya untuk pendidikan dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih berkualitas dibanding negara-negara miskin yang membelanjakan dananya lebih sedikit untuk pendidikan. Sebagai contoh di negara-negara yang mengalokasikan dana pendidikan lebih besar, satu guru melayani 20 orang siswa, sedangkan di negara-negara yang kecil alokasi dana pendidikannya satu orang guru melayani 30 orang siswa. (Orstein & Levine, 2018).

Lebih lanjut dijelaskan, keberhasilan pendidikan di negara maju, ternyata tidak lepas dari peran guru berkualitas. Sekalipun pengajaran lebih banyak ceramah dan siswa menyimak duduk di kursi, pada sekolah dasar di Selandia Baru, mereka telah menerapkan sistem pengajaran yang menekankan pada keterampilan membaca. Anak-anak belajar menemukan kontek saat mereka membaca, dari naskah yang menggunakan bahasa sehari-hari. Pembelajaran ini telah berhasil meningkatkan kecerdasan anak-anak sampai jenjang perguruan tinggi. Pembelajaran menekankan pada keterampilan berpikir, didukung oleh guru-guru berkualitas tinggi, dan sarana prasarana kelas, dan pembaruan alat laboratorium.

Kesimpulan dari penelitian PISA, TIMMS, PIRLS, menyimpulkan bahwa nilai nasional pada mata pelajaran seperti membaca, matematika, dan sains cenderung sangat berkorelasi. Tujuh dari negara dengan skor membaca tertinggi dalam data yang dikumpulkan oleh PISA, juga berada di delapan negara tertinggi yang memperoleh skor tertinggi dalam matematika dan sains. Penelitian ini mengkerucutkan arti kualitas seorang guru harus diukur dari budaya literasi. Di Amerika Serikat, budaya literasi yang dimiliki seorang calon guru, menjadi syarat kelulusan dalam seleksi calon guru. Kemampuan baca rendah anak-anak didik, tidak lepas dari campur tangan para guru.

Berkaitan dengan rencana peningkatan mutu guru berbasis zonasi, penulis tidak menemukan hal esensial dalam kebijakan baru ini. Pokok dasar masalah guru, bukan pada metode pembenahannya yang harus dikedepankan oleh pemerintah, tetapi masalah pemetaan dan distribusi guru. Jumlah 3,1 juta orang guru PNS secara nasional, telah memenuhi kuota kebutuhan guru, tetapi jika dilihat fakta dilapangan masih ada sekolah tanpa guru PNS.

Permasalahan mendasar lainnya adalah masalah konten dan konsitensi dalam model penigkatan mutu guru. Program sertifikasi dengan tunjangan sertifikasi banyak dikritisi tidak menghasilkan apa-apa untuk guru, bukan berarti program sertifikasi guru gagal meningkatkan kualitas guru, tetapi ada subtansi program yang harus dievaluasi. Amerika Serikat yang sudah lebih dulu melakukan program sertifikasi sampai sekarang masih menghadapi kendala dalam hal kualitas guru.

Upaya yang dilakukan mereka adalah melakukan seleksi ketat dalam rekruitmen guru, dan meningkatkan peran serta organisasi profesi guru dalam mengawal kualitas guru. Selain itu, pemerintah Amerika terus membenahi lembaga-lembaga pendidikan yang mendidik para calon guru, dengan melakukan akreditasi ketat pada lembaga tersebut. Dari sisi keilmuan, profesi guru yang masih dianggap semi profesi, secara keilmuan harus terus ditingkatkan melibatkan lembaga pendidikan tinggi keguruan (LPTK) terakreditasi sangat baik, agar keilmuannya sama dengan dokter dan pengacara. Dengan demikian tidak bisa sembarangan orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan bisa menjadi guru. Awal karier seorang guru, harus diawali dari panggilan jiwa dan punya kepribadian seorang guru.

Kegagalan pemerintah dalam menata kebutuhan guru, terlihat pada rekruitmen calon guru  yang latar belakang pendidikannya tidak tersedia dilapangan seperti guru kewirausahaan. Alhasil pada kuota guru kewirausahaan tidak ada satu pun calon guru yang mendaftar karena tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang menyediakan sarjana kewirausahan. Untuk itu, pemerintah harus betul-betul serius mengelola kebutuhan guru, dengan menggali data dari lapangan dan melibatkan akdemisi, praktisi, dan organisasi profesi guru ketika akan mengeksekusi sebuah kebijakan dalam penataan dan peningkatan kualitas guru.

Berdasarkan survey di tingkat internasional, masyarakat Indonesia masih memiliki penghormatan tinggi kepada guru. Penghormatan masyarakat kepada guru, harus segera diimbangi dengan program-program peningkatan mutu guru melalui evaluasi substansi program sertifikasi yang sudah ada secara berkelanjutan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala SMAN 1 Cipeundeuy, Pengurus PGRI Kab. Cianjur)
   

KEKHAWATIRAN DAN HARAPAN PPDB


OLEH: TOTO SUHARYA

Berbicang-bincang dengan kepala sekolah senior disela-sela pelantikan Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) DPC kota Bandung, saya menangkap kekhawatiran para senior. Kekhawatiran itu, dikemukan bahwa PPDB zonasi dengan prioritas domisili berdasarkan kartu keluarga, telah ditafsir oleh segelintir orang untuk meruntuhkan kejayaan sekolah-sekolah favorit.

Para senior mengkhawatrikan sistem peneriman peserta didik baru berdasarkan pada domisili, sekolah-sekolah favorit yang ada di tengah kota terancam tidak akan dapat siswa, atau kualitasnya menurun karena akan dimasuki siswa dari berbagai macam latar belakang siswa. Kekhawatiran ini menjadi harapan akan ada kebijakan khusus terhadap sekolah-sekolah favorit agar tetap favorit.

Dari sudut pandang lain, bagi sekolah di desa dan swasta, kebijakan PPDB zonasi dengan prioritas domisili, kebijakan ini dapat meningkatkan kredibilitas sekolah desa dan swasta. Melalui PPDB prioritas domisili, akan terjadi penyebaran siswa berprestasi akademik dan non akademik secara merata. Siswa dengan orang tua kaya, dapat masuk sekolah dekat rumahnya dan ikut membantu membiaya pengembangan sarana prasarana sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Lambat laun dengan kondisi ini, kualitas pendidikan dapat menyebar secara merata.

Di sisi lain, orang tua siswa yang rumahnya tidak dekat sekolah, gelisah karena tidak mungkin diterima di sekolah yang dia inginkan karena jauh. Dia harus menyiapkan dana besar karena pasti harus mencari swasta berkualitas dengan biaya pendidikan selangit. Bagi orang tua ini, PPDB dengan prioritas domisili dianggap diskriminatif.

ARTIKEL TELAH DIMUAT DI FORUM GURU PIKIRAN RAKYAT KAMIS, 28 FEBRURI 2019
Namun demikian, kebijakan PPDB dengan prioritas nilai akademik, kebijakan itu sama-sama diskriminatif. Dia tidak pernah berpikir bahwa ketika nilai akademik menjadi syarat seleksi dalam PPDB, anak-anak dengan nilai akademik bodoh, harus puas masuk sekolah dengan layanan minim. Kejadian ini berjalan berpuluh-puluh tahun, ribuan anak yang dianggap bodoh, tidak cerdas secara akademik, diabaikan haknya untuk mendapat layanan pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas hanya untuk orang-orang borjuis yang bisa cerdas karena bisa membiayai les akademik di lembaga private.

Pemerintah sudah sangat cerdas menangkap kondisi sosial masyarakat saat ini. Pendidikan berkualitas adalah milik semua warga negara. Seiring dengan penemuan-penemuan baru dalam dunia pendidikan, anak cerdas tidak lagi di dominasi oleh kecerdasan intelektual. Howard Gardner menemukan delapan kecerdasan yang dimiliki anak-anak. Stanley melakukan riset bahwa para milionare dengan kekayaan triliunan berasal dari anak-anak yang tidak cerdas secara intelektual. Stanley menyimpulkan bahwa antara anak-anak cerdas secara intelektual dan yang tidak, kelak penghasilan  ekonominnya tidak mengalami perbedaan signifikan.

Indonesia sebagai bangsa besar, tidak mungkin hanya mengandalkan sekolah-sekolah favorit untuk mepersiapkan generasi penerusnya. Kini pemerintah harus bekerja keras untuk membuat semua sekolah favorit. Salah satu kebijakannya adalah dengan membuat sistem rekruitmen PPDB yang tidak memprioritaskan salah satu kecerdasan. Kini setiap sekolah dituntut agar mampu meningkatkan kecerdasan semua siswa sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa masing-masing melalui layanan pendidikan.

Di era persaingan bebas, sekolah-sekolah tidak bisa lagi mempertahankan sekolah tetap berkualitas dengan bantuan kebijakan yang menguntungkan sepihak, di sisi lain merugikan. Setiap warga negara harus dijamin bisa mendapat perlakuan sama dihadapan hukum dalam mendapat layanan pendidikan berkualitas.

Tantangan bagi pengelola pendidikan untuk melakukan revolusi pendidikan, mengubah paradigma pendidikan, mengacu pada kualitas proses bukan pada kualitas input peserta didik. Sekolah-sekolah unggul ditandai dengan hadirnya para inovator di dalam lingkungan pendidikan, melayani anak-anak dengan berbagai macam pendekatan untuk mengembangkan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki anak-anak.

Setiap kebijakan akan mengalami transisi, dan setiap transisi pasti akan ada masa krisis dan adaftasi. Pada masa krisis inilah harapan dan kekhawatiran akan muncul. Namun, penulis yakin masa transisi seiring waktu akan cepat berakhir dengan kemampuan adaftasi para guru dalam menghadapi segala macam perubahan zaman.

Bangsa besar tidak mungkin bangkit hanya dengan menghadapi masalah biasa, bangsa besar lahir dengan menghadapi masalah-masalah luar biasa. Sistem PPDB zonasi dengan prioritas domisili, adalah tantangan para praktisi pendidikan untuk keluar dari zona nyaman. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala SMAN 1 Cipeundeuy KBB, dan Pengurus PGRI Kab. Cianjur)     

MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk....